Kamis, 13 November 2008

Habiburrahman El Shirazy

Lewat karyanya, Ayat-Ayat Cinta (AAC), saat ini dia menjadi salah seorang novelis yang cukup ternama di negeri ini. Kang Abik, demikian dia biasa disapa, sebenarnya bukan penulis baru. Cukup banyak novel yang telah ditulis dan diterbitkannya. Rata-rata karyanya bernuansa agamis sesuai background-nya sebagai santri.

Sebelum AAC yang melambungkan namanya, Kang Abik menulis Bercinta untuk Surga, Di Atas Sajadah Cinta, Pudarnya Pesona Cleopatra, Dalam Mihrab Cinta, dan Ketika Cinta Bertasbih jilid satu dan dua.

Bahkan, karya AAC telah menarik hati sutradara muda berbakat Hanung Bramantyo untuk menyuguhkannya dalam karya sinematrogarafi. Hasilnya, film AAC dibintangi beberapa artis terkenal, seperti Fedi Nuril, Rianti Cartwright, Saskia Adya Mecca, dan Carissa Putri.

Film AAC laku keras di masyarakat. Tak kurang dari 3 juta orang telah menonton film tersebut. Bukan hanya remaja, film itu juga ditonton orang-orang terkenal di negeri ini. Sebut saja, Presiden RI SBY dan Istri, mantan Presiden RI B.J. Habibie dan Wapres Jusuf Kalla. Masyarakat harus antre tiket demi menonton film tersebut.

Kekuatan AAC memang terletak pada jalinan cerita. Kemelut percintaan antara mahasiswa asal Indonesia yang kuliah di Al-Azhar, Kairo, Mesir, dengan empat wanita itu, ternyata, membuat orang tak kuasa membendung air mata. "Isinya biasa saja kok. Ceritanya juga biasa. Tidak ada yang istimewa dalam novel ini," ujar Kang Abik merendah saat berdiskusi di konter toko buku Gramedia, Ambarukmo Plaza, Jogjakarta.

Bukan hanya filmya yang laku keras. Novel yang diterbitkan 2005 itu juga menjadi best seller dalam waktu cukup singkat. Hingga saat ini, lebih dari 450 ribu eksemplar terjual di pasaran.

Yang juga membanggakan, novel tersebut ternyata tidak hanya menggebrak di Indonesia. Di negara jiran, seperti Brunei, Malaysia, dan Singapura, novel itu sangat digemari. Bahkan, novel AAC telah dijadikan karya sastra perbandingan di salah satu peruguran tinggi (PT) di Malaysia.

Bagi Kang Abik, "keriuhan" yang ditimbulkan AAC itu tidak seperti orang membalikkan tangan. Dia harus melewati lorong panjang nan sepi.


Kang Abik mengenal dunia tulis-menulis sejak anak-anak. Dia belajar menulis mulai di bangku SD. Pria kelahiran 30 September 1976 tersebut tumbuh dan dibesarkan dalam lingkungan pesantren. Karena itu, wacana pesantren sangat kental dalam pemikirannya.

Dia merupakan lulusan pesantren di Mranggen, Demak, Jawa Tengah. Di pesantren itulah, bakat menulis mulai terasah. Dia banyak belajar syi'ir-syi'ir Arab dan ilmu balaghoh (sastra Arab, Red) yang mengasah kemampuannya menuangkan ide dalam tulisan.

"Itu mulanya saya berkenalan dengan sastra. Kemudian, terdukung ketika belajar di madrasah program khusus di Surakarta. Di sana saya mendirikan teater bersama beberapa teman. Saya sebagai penulis skenario dan sutradara," ceritanya.

Selanjutnya, bakat sastranya terus terasah saat belajar di Al Azhar University, Kairo, Mesir. Di sana, dia banyak mempelajari karya dan literasi karya ulama terkenal dari berbagai dunia. "Banyak yang saya dapat saat saya belajar di Mesir," tuturnya.

Sepulang dari Mesir, dia meneruskan hobi di bidang sastra. Kang Abik menulis beberapa cerpen yang kemudian dikumpulkan dalam sebuah buku yang berjudul Kisah-Kisah Islami. Selain menulis, Kang Abik mengajar di Madrasah Aliyah Program Keagamaan (MAPK) MAN 1 Jogjakarta. "Pada waktu itu, gaji saya hanya Rp 100 ribu," ungkapnya.

Namun, sebuah kecelakaan yang terjadi pada 2003 menjadi titik balik hidupnya. Saat akan pulang ke rumahnya di Semarang, dia mengalami kecelakaan di Magelang. Kaki kanannya patah sehingga dia tidak bisa mengajar lagi.

Saat sakit itulah, Kang Abik menumpahkan waktu untuk menulis novel. "Saat itulah, saya menulis Ayat-Ayat Cinta dalam kondisi yang memang saya tidak bisa ke mana-mana. Siang malam saya nulis novel ini," katanya.

Dia mengaku inspirasi AAC itu berasal dari ayat Alquran Surat Al-Zuhruf ayat 67. Dalam surat tersebut, Allah SWT berfirman bahwa orang-orang yang saling mencintai satu sama lain pada hari kiamat akan bermusuhan, kecuali orang-orang yang bertakwa.

"Jatuh cinta dan saling mencintai tetap akan bermusuhan juga pada hari kiamat, kecuali orang yang bertakwa. Jadi, hanya cinta yang bertakwa yang tidak mengakibatkan orang bermusuhan. Itu yang kemudian menjadi renungan saya. Saya pengin juga menulis novel tentang cinta, tapi yang sesuai dengan ajaran Islam, yang menurut saya benar," ungkapnya.

Kang Abik mengakui, setiap karyanya merupakan perpaduan antara sastra dan pesantren. Dia banyak mengambil literasi dan rujukan karya ulama terdahulu. "Rujukan saya adalah karya para ulama dulu. Pedoman menulis saya adalah Alquran. Dengan Alquran, Insya Allah orang akan selamat dan sukses," tuturnya.

Lalu, apa kiat suksesnya dalam menulis karya sastra? Pertama, harus punya niat yang kuat. Kedua, berani menulis. "Banyak orang yang punya niat tapi tidak berani menulis. Kiat lainnya adalah menulis, menulis, dan menulis," sarannya.


Sumber : kabarindonesia.com



0 komentar:

Poskan Komentar

Related Posts with Thumbnails