Senin, 10 November 2008

BUNG TOMO

Sutomo atau yang lebih dikenal dengan nama Bung Tomo akhirnya dianugerahi gelar Pahlawan Nasional yang diserahkan oleh Presiden SBY pada tanggal 10 Nopember 2008 bertepatan dengan peringatan Hari Pahlawan.
Bung Tomo (Sutomo), terlahir di Kampung Blauran, Surabaya pada tanggal 3 Oktober 1920 dan meninggal dunia di Makkah, 7 Oktober 1981.
Bung Tomo terkenal karena peranannya membangkitkan semangat rakyat untuk melawan kembalinya penjajah Belanda melalui tentara NICA, yang berakhir dengan pertempuran 10 November 1945, yang hingga kini diperingati sebagai Hari Pahlawan.
Sutomo dibesarkan di rumah yang sangat menghargai pendidikan. Anak Kartawan Tjiptowidjojo, wiraswastawan, ini pada usia 12 tahun terpaksa meninggalkan pendidikannya di MULO (setingkat SMP). Belakangan ia menyelesaikan pendidikan HBS (setingkat SMU)lewat korespondensi, namun tak pernah resmi lulus. Sutomo lalu bergabung dengan KBI (Kepanduan Bangsa Indonesia). Pada usia 17 tahun, ia menjadi terkenal saat berhasil menjadi orang kedua di Hindia Belanda yang mencapai peringkat Pandu Garuda. Sebelum pendudukan Jepang pada 1942, peringkat ini hanya dicapai oleh tiga orang Indonesia. Sutomo pernah menjadi jurnalis sukses. Kemudian ia bergabung dengan sejumlah kelompok politik dan sosial. Ketika ia terpilih pada 1944 untuk menjadi anggota Gerakan Rakyat Baru yang disponsori Jepang, hampir tak seorang pun yang mengenal dia.
Namun semua ini mempersiapkan Sutomo untuk peranannya yang sangat penting, saat Oktober dan November 1945, ia berusaha membangkitkan semangat rakyat sementara Surabaya diserang habis-habisan oleh NICA. Sutomo dikenang karena seruan-seruan pembukaannya dalam siaran-siaran radionya yang penuh emosi, "Allahu Akbar! Allahu Akbar! Allahu Akbar!" Meski Indonesia kalah dalam pertempuran 10 November itu, kejadian ini tetap dicatat sebagai salah satu peristiwa terpenting dalam sejarah Indonesia.
Setelah kemerdekaan, Bung Tomo menjabat Menteri Negara Urusan Bekas Pejuang Bersenjata/Veteran sekaligus Menteri Sosial Ad Interim pada 1955-1956 di era Kabinet Perdana Menteri Burhanuddin Harahap. Bung Tomo juga pernah jadi anggota DPR pada 1956-1959 yang mewakili Partai Rakyat Indonesia. Pada akhir masa pemerintahan Soekarno dan awal pemerintahan Suharto yang mula-mula didukungnya, Sutomo kembali muncul sebagai tokoh nasional. Namun pada awal 1970-an, ia berbeda pendapat dengan pemerintahan Orde Baru. Ia berbicara dengan keras terhadap program-program Soeharto sehingga pada 11 April 1978 ia ditahan. Baru setahun ia dilepaskan Soeharto. Meskipun semangatnya tak hancur di dalam penjara, Sutomo tampaknya tidak lagi berminat untuk bersikap vokal. Sutomo sangat dekat dengan keluarga dan anak-anaknya dan berusaha keras agar kelima anaknya berhasil dalam pendidikan. Pada 7 Oktober 1981 ia meninggal dunia di Makkah, ketika sedang menunaikan ibadah haji. Jenazahnya dibawa kembali ke tanah air dan dimakamkan bukan di Taman Makam Pahlawan, tetapi di Tempat Pemakaman Umum Ngagel, Surabaya.

Sumber : surabaya post

0 komentar:

Poskan Komentar

Related Posts with Thumbnails